.: Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang :.

Thursday, May 05, 2016

Memaknai Karakter Anak

Setiap anak memang tidak semuanya sama karakternya, tapi kadang masih banyak orangtua dan guru yang blom bisa membaca karakter anak-anaknya.

Tentunya sebagai orangtua atau guru harus lebih pinter lagi bagaimana membaca karakter anak, orangtua khususnya memang udah tau bagaimana dengan sifat dan karakter anak, kita tidak bisa menyamakan karakter anak-anak kita, apalagi membanding-bandingkan anak-anak kita.

Menyimak dengan berbagai kasus seperti halnya disekolah, guru khususnya sebagai orangtua yang ada disekolah harus lebih banyak membaca warna-warni anak-anaknya dikelas.

Salah satu contohnya dalam sekelas ada 20 siswa otomatis itu semua 20 warna karakter anak, disitulah tugas besar bagi guru-gurunya untuk terus membaca dan memahami karakter siswanya dikelas.

Kenapa saya menulis tentang hal ini, mungkin egois banget kalau guru juga menyamakan karakter anaknya dikelas, ketika kita memberikan suatu "funishment" buat siswapun tidak selamanya si anak menerimanya.

Dengan zaman yang berbeda denga zamannya kita dulu sekolah, mungkin kita semua yang berada di taun 80-90an merasakan bagaimana saat itu guru terhadap siswa bisa bebas bagaimana ketika memberikan suatu funishment.

Seorang orangtua atau guru boleh keras tapi tegas asal tidak kekerasan, bagaimana ketika sang guru memberikan suatu pengertian seperti salah satu contoh ketika si anak punya suatu kesalahan, kita tidak bisa menjudge langsung bahwa si anak itu salah, kita bisa memberikan pengertian dari hati ke hati.

Dari kata-kata yang dikeluarkan dari guru tidak semua anak menerima itu semua, disitulah tugas besar bagi sang guru untuk biaa membaca karakter anak, ada anak yg bisa menerima dan ada juga yang tidak menerima langsung dengan perlakuan gurunya.

Seperti halnya bagaimana gurh memberika kata-kata yang positif buat anak bukan memberikan kata-kata yang negatif.

Contoh :

Masih ada guru yang memberikan perlakuan kata-kata pengertian yang menjatuhkan karakternya *bagiku sih seperti itu*.

Ketika si anak manja, guru tersebut hanya memberikan katakata " kamu laki-laki jangan cemen" kata tersebut tidak semua anak bisa menerima perlakuan tersebut.

Ada juga anak yang biasa-biasa aja dengan kata-kata negatif tersebut, tapi apa jadinya kalau buat anak yang tidak menerima dengan kata-kata tersebut.

Mungkin si anak malah down karena mindsetnya " ya saya cemen" (dialam bawah sadarnya), padahal masih banyak kata-kata positif untuk membangun dan memotivasi karakter anak.

Dari situlah penting bagi kita orangtua terutama sebagai guru harus bisa membaca karakter anak, dan harus bisa lebih cerdas lagi untuk memilih dan memilah katakata yang lebih bijak.

Post a Comment