.: Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang :.

Friday, October 03, 2014

Mengatasi Emosi OrangTua pada Anak

Penting rasanya untuk di share di blog, suatu pertanyaan-pertanyaan yang ada dibenak para orangtua dan bahkan orangtua sulit untuk mencari solusinya, 
salahsatunya adalah obrolan interaktif disalah satu grup BBM yang seru tentang Parenting "yuk jadi Orangtua Shalih"

Apa sih yang membuat orangtua jadi sering emosian pada anak?

Yang membuat kita sering emosi pada anak ada dua sebab: pertama ada masalah dengan kejiwaan kita dan kedua masalah kompetensi orangtua yang minim tentang anak. Jika karena masalah kejiwaan yang biasanya muncul akibat trauma masa lalu saat orangtua ini jadi anak-anak, cara mengatasinya adalah dengan terapi jiwa.
Ternyata hasil pengamatan saya, kebanyakan orangtua emosian pada anak bukanlah karena sebab pertama: karena ada masalah dengan emosi atau jiwa orangtua itu, tapi lebih karena sebab yang kedua: kurangnya kompetensi orangtua menghadapi perilaku anak.

Kurangnya kompetensi orangtua menghadapi perilaku anak terbagi lagi menjadi dua bagian: pertama kurangnya atau bahkan gagal pemahaman memahami anak. Contoh kasus tentang ini misalnya diajukan orangtua berikut pada saya:

Tak sedikit orangtua kecewa pada anak bukan karena anaknya mengecewakan tapi karena gagal memahami anak itu sendiri. Kasus yang sama yang sering saya temui diantara yang lain adalah tentang kekecewaan orangtua perihal anak malas belajar, anak tidak mandiri, anak tidak bertanggung jawab, masalah kteativitas anak, mendifinisikan keberanjan dan kepintaran anak.

Gagal atau kurang memahami akan menyebabkan peluang lebih besar untuk orangtua gagal atau kurang memperlakukan anak secara tepat.

Kurangnya kompetensi orangtua yang kedua adalah soal keterampilan orangtua menghadapi tingkah laku anak yang tidak sesuai seperti: berantem, anak yang suka memukul, menendang dan perbuatan menyakiti lainnya, anak yang lelet, anak yang malas melakukan rutinitas harian (mandi, sikat gigi, tidur, bangun, makan, dll), anak yang sering rewel dan ngamuk, anak yang tukang jajan dan konsumtif, anak yang berlebihan main game, playstation, nonton televisi dan anak yang sering membantah orangtua.

Apa yang orangtua yang tidak terampil untuk menghadapi perilaku yang tidak sesuai seperti tadi? MENGANDALKAN SENJATA KATA-KATA (banyak bicara).

Terlalu banyak bicara pada saat anak berbuat buruk umumnya akan membuat orangtua jadi banyak emosi. Percayalah. Dalam kadar parah, biasanya jika sudah banyak emosi dapat memancing kekerasan orangtua pada anak. 

Jadi jika dirunut tahapnya adalah: BANYAK BICARA - BANYAK EMOSI- MEMANCING KEKERASAN.

Mengapa terjadi? Begini ceritanya. Pada saat anak berperilaku tidak sesuai, biasanya orangtua perasaanya positif atau negatif? Negatif kan? Jika negatid berarti orangtua kecewa pada anak. Pada saat kecewa menyebabkan orangtua mengeluarkan "serangan" pada anak. Pada saat anak "diserang" anak pun tegang.

Pada saat tegang, otak anak melakukan pertahanan diri, otak mereka mengkerut, saling merapat, membuat barisan pertahanan. Akibatnya? Jangankan nasihat, jangankan anak, kita saja orang dewasa, pada saat anak berbuat buruk makan pun tidak enak. Jangankan nasihat, makanan aja gak masuk kan?

Karena nasihat dan kata-kata orangtua  tidak masuk, menyebabkan orangtua jadi jengkel kesel pada anak. Jika berulang, inilah yang menyebabkan emosian pada anak. Pernah dengar kalimat semacam ini di rumah: "Kenapa sih gak dengerin! Harus  berapa kali sih ayah/ibu bilang?!"
Tak jarang pula, pada tingkat yang parah emosian pada anak berpeluang untuk memancing kekerasan orangtua pada anak.


Inilah biang kerok kekerasan yang sebenarnya, selain warisan masa lalu. Kompetensi yang kurang memancing kekerasan orangtua pada anak.

Tanyalah pada orangtua yang melakukan kekerasan pada anak: apakah mereka meyayangi anak mereka? Tentu saja iya. Apakah mereka nyaman dan ingin terus-terusan menyakiti anak? Tentu saja tidak! "Bahkan saya juga dari dulu tahu teorinya: memukul anak itu tidak bagus!"
Tapi mengapa mereka masih melakukannya? Karena tidak tahu bagaimana lagi caranya? Alias tidak tahu cara lain.
Jadi apa solusinya? Tingkatkan kompetensi kita, Belajar lah untuk meningkatkan kompetensi kita Insya Allah ada perbedaan. Meski tidak langsung merubah perilaku, tapi saya berani menjamin ada perbedaan orangtua yang sering belajar dengan yang tidak.

sumber  : Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari
Fasilitator Pelatihan Orangtua di 25 Propinsi di Indonesia dan 5 Negara
Penulis buku-buku best seller parenting


Belajar dengan banyak membaca buku-buku  parenting, ikut seminar-seminar parenting, sebagai salah satunya, selain itu paling utama ambil air wudu ketika anak memancing emosi orangtua, pergilah menjauh sementara dari anak untuk meredakan emosi kita terhadap anak..

Post a Comment