.: Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang :.

Sunday, February 28, 2010

Ketika Anak Perempuan suka Mainan Laki-laki


Jenis Mainan sesuai dengan Jenis kelamin Adalah hal yang lumrah terjadi di sebagian orang tua yang menggolong-golongkan mainan sesuai jenis kelamin anak.

Banyak diantara orang tua yang langsung melarang atau memarahi anak lelaki kecilnya ketika dilihatnya anaknya tersebut tampak asyik bermain masak-masakan. Tabu, kata mereka. Kekhawatian ini masuk akal karena orang tua mana yang mau anak lelakinya menjadi kewanita-wanitaan atau sering kali kita lihat orang tua yang berkata, "Iih, anak perempuan kok main robot-robotan. Ini kan mainan anak laki?"

Di masyarakat sering kali anak laki-laki digoda atau diganggu oleh teman-temannya jika ketahuan ia bermain boneka. Padahal anak laki-laki selalu senang bermain boneka dan itu tidak berarti ia kewanita-wanitaan. Begitu juga jika anak perempuan senang bermain mobil-mobilan, biarkan saja.

Toh bukan berarti ia menjadi kelaki-lakian. Anak kecil tidak mengerti penggolongan atau pengkategorian. Orang dewasa yang membuatnya. Jadi mengapa harus dilarang jika anak perempuan anda tampak senang bermain mobil-mobilan? Dalam industri mainan dewasa ini telah tampak kemajuan.

Sekarang banyak perusahaan mainan yang membuat boneka yang didisain "maskulin" seperti boneka "Action Man" atau boneka-boneka dari karakter film kartun yang "macho" seperti"Power Ranger" atau sejenisnya. Dengan begitu anak lelaki tetap dapat bermain boneka tanpa terlihat "kewanita-wanitaan".

Mereka dapat "mendandani"bonekanya tanpa takut ditertawakan. Atau boneka Barbie yang mengendarai mobil kini juga mulai dijual di pasaran. Siasat ini mungkin berguna juga.

Sehingga, kata para ahli , orang tua sebaiknya jangan membuat anak-anak mereka menjadi lebih `maskulin` atau `feminin` dengan memilah-milah mainan berdasarkan apa yang orang tua pikir bahwa anak lelaki harus main ini dan anak perempuan harus main itu.

Orang tua sebaiknya membelikan mainan sesuai dengan selera individu si anak bukan hanya berdasarkan jenis kelamin atau usia....so tenang ajalaahh yaa....heheheh

Tuesday, February 16, 2010

Untuk Perempuan Super Sibuk: Sukses Di Kantor, Sukses di Rumah

Seorang ibu rumah tangga kadang kesulitan untuk membagi waktu untuk mengurusi semua urusan rumah dan keluarganya. Apalagi perempuan yang memilih berkarir, kesulitan mereka untuk menyeimbangkan peranannya sebagai pekerja di kantor dengan perannya sebagai ibu rumah tangga, jadi berlipat ganda. Tapi itulah tantangan bagi perempuan karir sekaligus ibu rumah tangga. Mereka harus bisa membagi waktunya antara bekerja di luar rumah dengan keluarganya di rumah.

Kesulitan membagi waktu ini menjadi kerap menjadi keluhan utama para perempuan karir. Tapi sebenarnya, jika mereka jeli, kesulitan menyeimbangkan peran itu terkadang datang dari mereka sendiri yang tanpa disadari kadang telah banyak membuang waktu-waktu berharga mereka. Untuk menghindari hal tersebut, Anisa Abeytia, seorang perempuan karir, penulis lepas dan spesialis di bidang kesehatan intregratif asal Uni Emirat Arab ini memberikan tips-tips bagi para perempuan karir maupun ibu rumah tangga agar lebih efektif menggunakan waktunya sehingga bisa menyeimbangkan semua kewajiban yang harus dipenuhinya.

Tips yang diberikan Abeytia berdasarkan pengalamannya sebagai ibu yang bekerja di luar rumah, mengurus empat anak dan menerapkan program homeschooling buat anak-anaknya serta masih harus bolak-balik ke kampus untuk menyelesaikan studi masternya. Tak terbayangkan betapa sibuknya ia harus membagi waktu agar tidak ada yang terbengkalai. Nah, inilah kiat-kiat yang diberikannya untuk para ibu yang juga super sibuk;

Membuat perencanaan. Sebaiknya ketika akan melakukan sesuatu, kita membuat perencanaan yang matang. Meski kadang hasilnya masih meleset dari yang kita harapkan. Tapi dengan membuat perencanaan, setidaknya kita tahu apa yang kita inginkan, bagaimanan mencapainya dan apa yang penting buat kita.

Tidak melibatkan anak-anak dalam banyak kegiatan di luar rumah. Banyak orang yang menjejalkan anak-anaknya dengan segudang kegiatan yang akhirnya banyak menyita waktu sang ibu hanya untuk mengatarkan anak-anaknya dari satu tempat kegiatan ke tempat kegiatan lainnya. Orang tua boleh-boleh saja memberikan banyak kesempatan pada anak-anaknya untuk mempelajari apa saja. Tapi tidak perlu berlebihan karena banyak kegiatan akan membuat ibu dan anak sama-sama lelah, anak juga jadi belajar tidak konsisten dan tidak benar-benar menguasai satu bidang karena terlalu banyak yang dilakukannya.

Jangan terlalu banyak perabot di rumah. Benda-benda yang ada di rumah kita harus selalu dalam keadaan rapih dan bersih dan itu artinya, semakin banyak perabotan di rumah, makin banyak pula waktu yang dibutuhkan untuk membersihkan dan merapikannya. Akan lebih baik jika perabot rumah tangga tidak terlalu banyak dan dipilih yang simpel saja, sehingga tidak buang-buang waktu ketika mengurusnya.

Menata rumah dengan benar . Kita kadang tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya sehingga ketika membutuhkan, butuh waktu lama untuk mencarinya. Disinilah pentingnya pengorganisasian, menempatkan benda-benda dalam rumah dengan benar dan seluruh anggota keluarga tahu kemana mereka harus mencari benda-benda yang dibutuhkannya termasuk masalah penggunaan telepon, internet dan televisi bisa menyebabkan banyak masalah jika penggunaannya tidak bijaksana.

Menetapkan tujuan yang realistis. Menentukan tujuan yang realistis memang bukan pekerjaan yang gampang. Tapi setiap tujuan harus sangat spesifik dan memberikan bimbingan pada kita tentang bagaimana, kapan dan berapa banyak atas kegiatan-kegiatan yang akan kita lakukan.

Menetapkan prioritas. Agar waktu tidak terbuang percuma, ada baiknya menentukan prioriotas apa yang penting buat kita dan mengapa sesuatu itu penting. Usahakan semua perencanaan per hari, per minggu atau perbulan dibuat dalam bentuk tertulis. Dengan mencatat semua rencana, tujuan, prioritas, waktu yang digunakan lebih efesien.

Pentingnya waktu untuk menyendiri. Setiap orang butuh saat-saat dimana ia bisa relax dan menyegarkan kembali pikirannya. Misalnya, membaca buku, mandi, berbagi makanan dengan teman-teman atau melakukan aktivitas yang sangat kita sukai. Jika tubuh dan pikiran tidak diberi kesempatan untuk relax, bisa menimbulkan resiko kelelahan dan sakit.

ilustrasi



Allah Swt menyukai tindakan kecil yang kita lakukan tapi konsisten. Daripada banyak hal yang dikerjakan tapi tidak konsisten mengerjakannya secara rutin. Konsistensi membuat sebuah kegiatan menjadi lebih mudah dan efektif serta bisa menyentuh semua aspek kehidupan. Kita tidak perlu membuang-buang waktu, uang dan tenaga hanya untuk meraih tujuan-tujua kita jika konsisten dengan tindakan kita.

Kesimpulannya, kunci keberhasilan seorang perempuan berkarir atau ibu rumah tangga adalah mampu menyeimbangkan antara pekerjaannya dengan waktu untuk keluarganya. Untuk itu yang terpenting adalah selalu membuat perencanaan, tahu prioritas apa yang akan dilakukan dan apa tujuan yang akan dicapai. Jika dibiasakan, ketiga unsur tadi akan menjadi sebuah sistem Anda dalam bekerja. Sehingga tidak perlu dipusingkan lagi dengan keluhan antara karir dan rumah tangga. by eramuslim.