.: Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang :.

Saturday, December 04, 2010

Penting Gak sih RANGKING.?


Mengedepankan nilai-nilai akdaemis masih menjadi tolak ukur oleh sebagian besar masyarakat kita. Masih terdapat anggapan bahwa pandai itu dinilai dengan CALISTUNG (baca, tulis dan hitung); diukur dengan berapa nilai angka di raportnya; dinilai juga dengan berapa piala atas prestasinya.

Padahal, nilai-nilai personal mempunyai peranan penentu dalam membentuk karakter individu secara penuh. Pandai dalam CALISTUNG, tapi kalau ternyata sang anak tidak mengenal nilai tata krama, juga percuma. Ranking pertama di kelas bahkan di sekolah, tapi kalau sombong dan arogan, ya buat apa (saya tidak setuju dengan adanya ranking-rangking di sekolah. Syukurlah sudah banyak sekolah menetapkan tanpa ranking :)) termasuk sekolah Azka. setuju banget

Nilai-nilai personal diharapkan dapat menjadikan seseorang 'kuat' dan 'terisi penuh' untuk menjadi manusia yang sesungguhnya. Yang artinnya, seorang yang tidak hanya pandai tapi juga pintar.Dalam hal ini, pintar adalah mampu memiliki nilai pribadi dan nilai-nilai kehidupan.
Teringat dengan Azka dan Azzam setelah pembagian Raport semester ganjil kemaren. dengan riang dan bangganya anak-anak dapet raport,"umi abi nih raport Kaka " seruu Azka,
Azzam gak mau ketinggalan, " Azzam juga punya raportnya, neh" dengan bahasa yang blom begitu jelas.hehee

Tentunya aku jawab " hebaatt semua raport jagoan-jagoan Umi semuanya kereeen, ini hadiah yang berharga buat Umi" , yaa kalo diliat dari sisi akademis memang blom maksimal dibanding dengan temen-temennya, tapi ada nilai berharga di dalam Raport-raport mereka.

Azka bilang " Mi bagus-bagus gak nilai Raport kaka ??" aku jawab " nilainya bagus dan ada kemajuan ada yang lebih bagus selain dari nilai yaitu Kaka tambah MANDIRI ", (Sholatnya gak usah disuruh, sopan santunnya, Tanggung jawabnya, terutama dirumah menjaga Azzamnya ketika bermain, lebih kritis pula, lebih Percaya diri dibanding ia baru masuk SD )" itu adalah jauh lebih berharga dari nilai dan Rangking Raport.

SI Kaka riangnya minta ampun, " bener mi..kaka jadi lebih hebat yaa" iya dong nilai yang ada diraport tidak bisa tergantikan oleh KeMANDIRIan nya..Subhanalloh..

Eh adenya gak mau kalah juga, " umiii Azzam juga hebatt"aku sampe terlupakan karena konsentrasi ke pertanyaan kakanya yang awal " ya iyaaa dong, anak umi semuanya Hebat, cerdas."

Dalam Memory Azka dan Azzam selalu berfikir dialam bawah sadarnya " aku anak hebat, aku anak soleh, aku anak cerdas" karena apapun yang mereka lakuakan selalu positif thingking, saya selalu tiap hari selalu berkata demikina sama mereka
"ooohh Nilai Azzam juga yang diraport sungguh hebat dan lebih hebat melihat perkembangan Azzam keseharian", seperti perkembangan Kakanya, "LEBIH MANDIRI', semula azzam yang pendiam sekarang Azzam lebih bawel, lebih aktif, luaarr biasaaaa,,

Yaa ternyata kepuasan Bathin didiri kita lebih Berharga ketika melihat anak-anak kita berkembang lebih maju sisi Psikologisnya.
Rangking penting gak Penting tergantung kita menyikapinya, tapi buat saya gak penting ada yang jauh lebih penting dari Rangking yaitu Psikologis mereka berkembang lebih hebat...Alhamdulillah..Luvh U Azka Azzam





Tuesday, November 23, 2010

Rumah bagaikan Penjara untuk Belajar

Belajar..Belajar..dan belajarr,, les, les, ngaji, kata-kata itu sering terdengar dan tidak merasa aneh juga, karena, kata-kata itu adalah seperti udah menjadi suatu kewajiban buat kita terutama buat anak-anak kita.

Ah, sepertinya dengan judul diatas emang terjadi dan sering terjadi pada kehidupan kita, tapi nggak mau dong anak-anak kita Rumah seperti penjara bagi mereka, tentunya suasana nyaman yang mereka inginkan, tentunya kita Orangtua pun menginginkan suasana rumah yang harmonis, apalagi anak-anak yang selalu tersenyun, (bukan senyum-senyum sendiri hehehe..)

Yaa ada seoarang anak 5 tahun, yang kesehariannya udah biasa dipaksa dengan belajar..belajar dan belajar, pulang sekolah ngajii..hehehe..aduhh kapan waktu maennya yaa...
Ah sampe anak itu merasa beban, ketika sekali keluar rumah sebentar aja, langsung deh dipanggil, musti masuk rumah, ah ibunya bilang mumpung masih kecil, jadi belajar dari sekarang masih bisa nurut.

Ya Ampun, ketika Anakku jam 1 siang dalam terlelap tidur siang, itu sianak jam segitu musti pergi ngaji, (baru 5 tahun), siang, panas, kadang kita juga orangtua berfikir, males aja keluar rumah jam segitu, apalagi anak, secara otak anak musti istirahat jam-jamnya siang..

Intinya sungguh ngeri banget anak usia tersebut, dimana musti merasakan dunia bermain, ini malah dunianya di pake buat belajar, belajar juga les ke les...aarrgg..moga kita nggak seperti itu, tapi terkadang orangtua gak sadar, bahwa si Anak udah terenggut dunia bermainnya.

Walopun misalnya si Anak tidak bisa tidur siang??..bukankah jam segitu bisa dimanfaatkan buat bermain, dan karena usia 5 tahun bermain adalah Belajar, bukan bermain untuk menulis, membaca, juga les ini, les itu, Apakah dnegan meloncat-loncat, atau maen lego itu uga samakan dengan belajar.....ah...sungguh bagi si Anak tersebut bahwa rumah bagaikan penjara buatnya, Ya Alloh YA Rabb...

Pernah suatu ektika, kebetulan aku ada dir umah, aku tanya si Anak, " ayo de sini keluar maen sama Azzam (kebetulan seusia sama Azzam 5 th), " si anak menjawab ( sianak berada di dalam kaca jendele rumahnya): " nggak boleh sama Mama karena bentar lagi harus mengaji " waduh itu jam 12.30an deh..puanaas lagi.

Eh si mamah nongol juga, katanya : " enggak ah maennya nanti aja dulu, kalo smeuanya udah lancar," maksudnya baca, nulis, plus qurannya, udah lancar baru boleh maen gitu yaa..hehehe

Kebayang disaat anak udah bisa maen keluar itu anak bisa-bisa males belajar, soalnya sekarang dipaksa untuk segala belajar...

Terus saya tanya lagi " kenapa maen dulu sini bentar, " eh ibunya dateng






Tuesday, September 28, 2010

9 Trik Bijak dalam mengawasi Online Anak

Tidak ada cara yang lebih baik dalam mengamankan anak dari ancaman dunia maya selain mengedukasi mereka dengan segudang informasi tentang bahaya dan risiko yang mengintai mereka di internet.

Memang ada software parental control yang menawarkan solusi efektif untuk memonitoring aktivitas anak saat online. Namun tools ini hanyalah sebagai alat bantu dan seharusnya tidak dijadikan ’satpam’ pengganti orang tua. Tidak serta merta dengan menggunakan software ini, menginstalnya di komputer lalu mengamati aktivitas anak dari jarak jauh, maka anak dijamin aman dari ancaman dunia maya.

Ingatlah bahwa ngenet tidak hanya dapat dilakukan lewat komputer. Di jaman yang makin canggih ini, anak juga berinteraksi dengan orang lain lewat ponsel yang sudah terkoneksi internet, atau mengakses Facebook dan Twitter dari PC sekolah atau komputer di rumah temannya. Kalau sudah begini, maka software parental tidak akan berguna.

Ada kalanya anak yang sudah menginjak remaja tidak suka jika orangtuanya memata-matai aktivitas onlinenya. Memakai software parental control adalah lain hal, coba lakukan cara lain yang lebih bijak seperti yang dipaparkan berikut ini. Tentu saja, trik-trik di bawah ini tidak semuanya harus diterapkan, tetapi disesuaikan dengan kondisi dan usia anak.

1. Jadilah temannya di Facebook
Cara pertama, buatlah kesepakatan dengan anak Anda bahwa jika ia ingin membuat akun Facebook maka ia harus berteman dengan Anda selaku orangtuanya, bisa ibu dan/atau ayah. Aturan ini tidak bisa dinego. Jika anak menginginkan membuat akun Facebook maka ia harus setuju dengan aturan ini.

2. Berteman dengan orang tua teman anak
Bentuk perkumpulan dengan para orangtua anak yang lain, yang notabene bersahabat dengan anak Anda. Dengan begitu, Anda akan mengetahui lebih banyak tentang orang tua teman anak Anda tersebut dan tingkat tanggung jawab mereka terhadap anak. Ingatlah bahwa buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya.

3. Tempatkan PC di area terbuka di rumah
Secara psikologi, anak akan memperlihatkan sikap canggung dan merasa tidak aman jika ada orang lain yang bisa leluasa melihat apa yang mereka lakukan di depan komputer, apalagi jika ia membuka situs yang aneh-aneh (tidak pantas). Jika anak online menggunakan laptop, buat aturan bahwa ngenet tidak boleh dilakukan di kamar tidur sehingga Anda bisa tetap mengontrol aktivitas anak di internet.

4. Awasi Twitter, Facebook, YouTube dan Foto
Kejadian buruk seperti cyberbullying (aksi pelecehan via internet) tidak hanya terjadi di Facebook. Cobalah awasi foto-foto apa saja yang diposting anak, apa yang mereka baca di internet, apa yang mereka tweet dan retweet, apa yang mereka lihat di YouTube.

5. Cek isi ponsel secara random
Jika memungkinkan, cek isi ponsel anak Anda secara random. Periksa foto dan video apa saja yang ada di dalamnya, jam berapa anak sms-an dan menerima sms, apakah ada yang mengancam anak Anda, dan lain-lain. Anak akan menunjukkan gelagat yang mencurigakan jika di ponselnya terdapat gambar, video, ataupun pesan aneh sehingga akan berusaha menolak jika orangtua ingin melihat isi ponselnya.

6. Cek history browser
Sama seperti ponsel, jika memungkinan cek history log browser yang digunakan anak Anda. Kalau anak menghapus jejak mereka ber-internet agar tidak dicurigai orangtua, maka Anda perlu lebih waspada mengawasi aktivitas yang dilakukan anak saat online.

7. Buat aturan waktu
Ini berlaku untuk ponsel dan komputer. Sama halnya memberlakukan aturan bahwa tidak boleh menonton televisi jika belum mengerjakan pekerjaan rumah (PR), selama jam makan malam atau setelah jam 9 malam. Aturan serupa hendaknya juga diberlakukan untuk ponsel dan internet.

8. Hari bebas ponsel/internet
Jika perlu, buatlah kesepakatan tentang hari bebas ponsel/internet, bisa seharian atau beberapa jam saja. Cabut steker listrik komputer atau modem. ‘Sita’ ponsel Anda dan anak Anda, jauhkan sejenak saat keluarga sedang melakukan kegiatan yang menyenangkan seperti bermain di halaman rumah, berenang dan sebagainya.

9. Jadilah sahabat
Orang tua harus rajin berdialog dengan anak tentang bahaya predator dan cyberbully, risiko berbagi foto dan pesan yang bersifat cabul, pentingnya pengaturan privasi. Biarkan mereka tahu mengapa Anda melakukan semua ini, jelaskan alasan-alasannya secara gamblang dan jangan lupa beri kesempatan kepada anak untuk menyuarakan keberatan atau masalah mereka. Jangan ragu untuk berkompromi, namun harus tetap berpegang teguh pada aturan-aturan yang Anda anggap penting.

Sebagai orang tua, kita tidak bisa terus-menerus mengawasi anak kita seiring mereka semakin dewasa dan mandiri. Jika kita ingin mendapatkan kepercayaan dan anak berterus terang kepada kita, mulailah ajak anak berdialog sedini mungkin dan tunjukkan kalau kita mempercayai mereka. 

(by Internet Sehat)

Wednesday, September 15, 2010

MengAkali TV bagi anak


Televisi adalah media hiburan yang sangat diminati semua orang, Pengaruh Media terhadap anak makin besar, teknologi semakin canggih & intensitasnya semakin tinggi. Padahal orangtua tidak punya waktu yang cukup untuk memerhatikan, mendampingi & mengawasi anak. Anak lebih banyak menghabiskan waktu menonton TV ketimbang melakukan hal lainnya. 

Dalam seminggu anak menonton TV sekitar 170 jam. Apa yang mereka pelajari selama itu? Mereka akan belajar bahwa kekerasan itu menyelesaikan masalah. Mereka juga belajar untuk duduk di rumah dan menonton, bukannya bermain di luar dan berolahraga. Hal ini menjauhkan mereka dari pelajaran-pelajaran hidup yang penting, seperti bagaimana cara berinteraksi dengan teman sebaya, belajar cara berkompromi dan berbagi di dunia yang penuh dengan orang lain.

Sebenernya Televisi ada sisi Positif dan Negatifnya, tapi lebih banyak Negatifnya, ketimbang positifnya, terbukti dengan banyaknya Iklan yang sangat merusak anak, anak bisa meniru, juga bisa merengek apa yang ada dalam Iklan tersebut.

Yaa tergantung kita sebagai Orang tua,  kita yang harus punya konsistensi buat anak hehehe...serius amat neh gw*_*
Aku coba sama Anakku sendiri, aku berusaha konsisten...matikan TV sekarang juga, ALhamdulillah berhasil..oya mungkin judul postingan ini hampir sama ama postingan terdahulu yang pernah aku tulis, tapi, tentu dong beda heheheh...

Nah postingan kali ini, aku sangat berharap, gimana caranya mengAkali Tv buat anak, karena Anak sekarang gak bisa terhindari dari TV, kecuali si TV itu gak ada sama sekali di rumah hehehe

Dan aku coba anak-anakku nonton TV hanya sabtu Mingu ternyata berhasil, ketika Azka anak sulungku hari jumat pulang sekolah udah langsung minta dinyalakan TV, karena besoknya libur, Nah dalam waktu anak menonton TV, kita juga harus bisa mendampingi anak2 nonton apa...

Aku selalu berusaha :
disekitar TV selalu disimpen banyak mainan kesukaannya, plus Buku-buku yang digemarinya, karena anakku suka sama buku juga, dengan demikian Anak akan buyar konsentrasinya, anak akan memilih mainan atau buku-buku yang ia gemari.

Walopun acaranya seru banget, tetep tidak akan konsentrasi full pada TV, atau kita bisa candain mereka di depan TV, itupun sangat berhasil, Apalagi kalo dah Iklan anak-anak akan pindah konsentrasi pada maenanya, padahal anak2 biasanya paling suka liat Iklanna, tapi dengan cara tadi dengan mainannya, anak akan buyar terhdap TV, lebih memilih mainan yang didepannya ketimbang TV, bener lho...aku lakuin sama anak-anakku hehehehe.

Sampe akhirnya anak meninggalakan itu TV dan anak konsentrasi ke mainannya,,,ffffuuiiihh berhasil..sampe aku smepet bilang
" kaka koq TVnya gak ditonton"
terus Kaka Jawab :
" Matiin aja mi, kaka lagi seru neh "
heheheh...

Moga bisa yaa semuanya, coba aja deh, cara yang sangat sederhana, tapi jangan lupa kita tetep jadi Orangtua yang proaktif juga, sambil dampingi anak nonton, kita sambil baca buku-buku kesukaannya, sambil diceritain dengan penuh penghayatan , dan dengan intonasi sesuai cerita di buku...coba deh hehhehe..

Saturday, July 31, 2010

antara Kewajiban dan Pembiasaan

Alhamdulillah neh, udah bisa posting lagi...kangeun juga sama blog ini yang udah lama gak dibuka dan dengan banyaknya kerjaan yang numpuk, hehehe :)

Dengan begitu tetep dong sebagai Ibu Rumah Tangga gak boleh lepas dari kewajiban dirumah terutama anak dan suami...aaarrhhhgg kemaren sempet bingung juga masalah yang satu ini, dan sampe sekarang aku masih bingung ngehadepinnya..

Sambil pelan-pelan ngasih pengertian  buat c Kaka, bagi Umminya yang bingung harus gimana, antara kewajiban buat suami dan pembiasaan juga kemandirian buat anak.

Cerita yang unik, dan mungkin C Kaka lagi kritis-kritisnya selalu komentar apa yang dilakukan Umi dan Abinya, yuupzz jempolan deh Ka...Kaka hebat..

Ketika kita lagi makan malem seperti biasa aku bawain makanan buat c abinya, setelah itu bawain minumnya, yaa namanya istri buat suami, Ibadahlah ehhehe...tapi bukan itu aku dapet dari c Kaka, gak tau kenapa Kaka bilang, "iiih Abi enak dibawain sama Umi makannya, minumnya..Kaka mah harus sendiri".

Kaka bilang juga : " enaak, katanya biar mandiri...kalo Abi sendiri dibawain  terus sama umi. ya Udah kaka juga Mi sekalian dibawain sama Umi minumnya" hahahhaha

Aduh...Aku gak bisa ngomong cuma bengong aja, saling lirik sama Abinya, begitupun Abinya bingung musti jawab apa hehehehe...

Aku coba jelaskan antara kewajiban buat suami dan Anak musti gimana, dan aku coba terus hati-hati dalam ngasih pengertiannya dengan bahasa yng dimengerti buat anak, tapi tetep belum dapet jawaban yang puas buat c Kaka..Mungkin ini masih PR buat Umi dan Abi ya Ka....Moga Umi dan Abi bisa membimbing Kaka dan Azzam dengan sabar dan Ikhlas.

Umi akan selalu banyak belajar juga sama Kaka dan Azza...Luv U sayang....


Saturday, June 19, 2010

Anak Bohong demi ke Warnet..??


Sedih banget yaa kalau anak kita berbohong, apalagi ini berbohong juga demi kepuasan sendiri si anak karena di rumah tidak ada yang bisa merasa puas buat diri si anak tersebut.

Ada seorang Ibu yang curhat sangat membuat kita terenyuh dengan permasalahannya tentang anaknya terutama anaknya yang sudah menginjak bangku SMP, yang sedang mencari jati dirinya , akkh sebenernya mungkin pemahaman kita sebagai orangtua yang rendah atau anaknya yang nggak bisa diatur, tapi disatu sisi, si Ibu kepengen banget anaknya jalur yang bener...(dimana-mana juga ibu kan penegn anaknya yang terbaik).

Si Ibu bilang bahwa apa yang ibu lakukan saat ini terhadap anaknya adalah sesuatu yang paling baik, tapi disatu sisi itu belum tentu yang terbaik didalam diri anak..bener gak yaa...tentunya iya dong.

Nah, Zaman sekarang adalah zaman teknologi Internet, otomatis setiap orang pasti akan mengenalnya apa itu internet, (yaa 75% lah mengenal internet), dari mulai anak SD aja udah mengenal internet apalgi anak SMP, yang terpenting bagaimana cara menangani anaknya usia SMP dalam hal Internet.

iyaa..si Ibu sangat sedih banget ketika diboongi sama anaknya,..yang salah mana yaaa, tapi menurut aku sih sebenernya, anak seusia SMP, seharusnya dekati dan selalu bersamanya, apa yang dinginkan anak kita, kita nggak bisa menjugde bahwa anak kita salah.

Tapi kita dekati hatinya lebih jauh, terutama dalam hal Internet, kalo kita gak mau dibohongi sama anak sebaiknya :

1. Galilah Perasaan Anak kita

Kita harus bisa masuk kedunia anak kita, kita gali apa yang bada dalam pikirannya, kita tanya apa yang diinginkan anak-anak kita, walaupun ketika kita denger anak kita berada di jalur yang membahayakan kita harus bisa mengeluarkan isi hatinya, tidak di bungkam, pancing anak kita untuk selalu terbuka dalam segala hal.

2. Kenyamanan di Rumah

Rumah adalah tempat berkumpulnya keluarga, dan disitu juga rumah selain tempat curhat, share, anak sama orangtuanya, tapi berilah kenyamanan anak dirumah, jangan sampai , anak mencari kenyaman diluar.

3. Fasilitasi Anak yang positif

Nah dalam Hal ini , sesuai dengan judul diatas dengan adanya Internet, berilah kemudahan anak dalam mengakses Internet yang baik, selama kita dirumah ada jaringan internet..why not...
Tapi, bukan berarti kita membebaskan anak-anak berinternet ria, teteep dalam pengawasan kita sebagai orangtuanya, walopun secara tidak langsung mengawasinya.

Dan berada dalam garis internet sehat, heheheh, kalau kita cegah anak kita untuk berinternetan di rumah, anak akan lari ke warnet tanpa sepengetahuan kita, nah dengan kita fasilitasi anak kita berinternet, kita sebelumnya komitmen dulu sama anak kita.
  1. Jadwalkan maen internet, misalnya untuk anak SMP satu hari cuma satu jam setelah pulang sekolah.
  2. Kalo hari Libur anak boleh lebih dari satu jam, misalnya 2-3 jam. walaahh anak akan seneng lho.
  3. Belajar teteup no satu heheh
  4. Kalo misalnya diluar ketentuan diatas, boleh kita beri Funishment berupa dikurangi uang jajannya .
  5. Selama anak internetan, kita teteup berusaha mengawasinay walaupun secara tidak langsung. atau kita browsing bareng dengan anak kita.


Thursday, May 13, 2010

Bila Kakak Pukul Adiknya


Manusia adalah mahluk sosial, tidak bisa hidup sendiri. Mereka perlu hidup bersama-sama. Dalam kebersamaan akan terjadi interaksi antara manusia yang satu dengan yang lain. Manusia memang tidak ada yang sama. Semua berbeda, baik dalam hal  pendapat, minat, dan keinginan, dll.

Bila perbedaan ini dapat diterima dan dipelajari, maka interaksi bisa berlangsung dengannyaman, bahkan perbedaan tersebut bisa menjadikan hubungan lebih menarik. Namun demiki  an,  pada anak-anak ada juga persamaannya. Untuk hal yang sama, membuat mereka dapat main bersama. Hanya kadang-kadang mereka mempunyai keinginan yang sama pada waktu yang sama. Hal itu dapat membuat mereka berebut dan terjadilah konflik.

Konflik itu memang mungkin sering terjadi diantara kakak dan adik. Yang penting adalah cara menghadapinya. Sikap yang paling baik adalah menerima kenyataan bahwa konflik itu terjadi, dan menjadikannya sebagai sarana belajar dan hikmah. Banyak yang bisa dipelajari antara lain:

  • Cara berpikir anak kita
  • Apa yang dia suka atau apa yang tidak suka
  • Bagaimana sikap dia terhadap kakak atau adiknya
  • Kemampuan anak menahan emosi
  • Kemampuan anak untuk menerima hal-hal yang tidak disukai
  • Kemampuan anak berbahasa: menyusun kata menjadi kalimat, untuk menyampaikan pikirannya pada  orang lain dan orang lain mengerti apa yang dia pikirkan.
Dan dibawah ini merupakan bagaimana cara kita menghadapi Anak-anak kita beranten atau kaka Pukul Adiknya, yang diambil dari sebuah catatan Abah Ihsan PSPA :
  1. Katakan, jika kaka marah sama adik, ayoo bicara sama adik apa yang membuat kaka marah. 
  2. Katakan bahwa mama menerima kaka marah sama adik dan bahwa marah dan kecewa itu boleh, tetapi menyakiti adik itu sama sekali tidak diterima di rumah mama. 
  3. Jika Anda memergokinya hendak memukul, tahan tangan, dan katakan kaka tak bisa memukul adik karena jika kk menyakiti adik berarti kk menyakiti mama. Pun saat adik mukul kaka, mama juga tak suka. 
  4. Muliakan kaka senantiasa saat kakakepergok berbuat baik sama adik. betapa bangganya mm punya kaka yang sayang adik dan betapa senangnya pasti adik dan mudah-mudahan adik sebaik kaka.
  5. Bertindak adillah di rumah. Banyak orangtua yang tidak berbuat adil sama kaka. Selalu menyuruh kk mengalah sama adik padahal jelas2 itu barang kaka. Selalu menghukum kaka saat berbuat salah tapi tidak pada adik saat adik yang melakukannya. Ketidakadilan ini yang bisa menyebabkan anak menjadi tak suka dengan adiknya. 
  6. Jika dia terus mengulang buat konsekuensi. Siapapun di rumah yang menyakiti harus mendapat konsekuensi. Misalnya saat ada yang mendorong, memukul atau apapun maka besoknya bisa dikurang poinnya, 'puzzle poin' nya diambil, dikurangi jam nonton, dikurangi uang saku. dll

Dengan mengetahui hal di atas, kita bisa menghadapi konflik anak-anak dengan tenang, bersemangat, untuk mencari solusi  tanpa harus ikut emosional. Bukan sebaliknya, kita merasa kecewa, dan ikut marah. Masalah bukan selesai, malah bertambah besar, karena ada tiga orang yang berada dalam konflik. Apalagi kalau ayah datang dan ikut terlibat, jadi tambah seru.

Kalau kita marah, anak merasa tidak nyaman melihat wajah kita. Apalagi ditambah dengan ucapan-ucapan kita yang tidak sesuai dengan  kebutuhan anak, akan membuat masalah bertambah sulit untuk diselesaikan


Monday, April 26, 2010

Antara Cinta dan 'Jijik'

Kalau dah Cinta gak bisa kemana lagi, dan cinta sesama terus cinta sama mahluk lain pun gak masalah..yang Jelas cinta sama mahluk ciptaan ALLOH...jjiiaahhh lebayy..tapi emang gitu yaa,, kenyataan yang dihadapi sama Azzam ..mmm

yeeaahh..cintanya disini adalah cinta  Binatang kesukaannya...huuufft..bukan sama hewan piaraannya kaya kelinci...saking cintanya sama tuh kelinci..sampe dibawa tiduurr....yeeaahh mati deh..kasian..dah dimandiin dibawa kekasur :)

Cinta emang gak bisa diungkapkan..tapi Cinta kadang keliatan jijik pula...aaarrgghh Azzam ada-ada aja..seneng banget liat binatang-binatang tuh....dirumah yang dulunya bekas sawah ..kata orang seh..tentunya banyak keong-keong..iihhh jijik kita ngeliatnya tapi nggak bagi Azzam seneng ajaa...si keong sampe dikumpulin pake tempat...wooowww...ketika kita liat..si keong yang dikumpulin di wadah yg mirip gelas pada maju...iiiiiiiiirrrrrgghhh,,,,Jijik banget, tapi bagi Azzam suatu maenan yang bikin dia anteng...seruuu :)

Semua hewan-hewan kecil yang ada dikehidupan kita sehari-hari emang menjijikan, tapi bisa buat pembelajaran anak kita...yeeaahh...
Selain Keong, Cicak dan Kecoa pun jadi buat tempat eksperimen Azzam...Jijik..tapi Cinta sama hewan, yang sama kita buang tuh kecoa, Azzam bisa marah, dia maenin dielus...huuhh dimasukin tempat deeh..jjiiaahhh...Jijik liatnya, nggak bagi azzam cinta sama hewan...

Pernah juga..Inget  hari minggu, Azzam teriak-teriak manggil Abinya, aku pikir dia ketakutan ada ulat " Abii...abi ada ulat" emang gak jelas seh...pas diliat Azzam dah bawa Ular yang baru aja ke giles kendaraan yang lewat, si Ular masih darah segarr....

Ya Ampuuun Zam..Jijik nak'...Azzam bilang kasian, yeeaahh Hargai aja okaayy...sampe tuh bangke ular  gak boleh kita buang, sampe nangis kalo mau dibuang, dan sampe kering karena si bangkai ular kejemur terik matahari..masih untung kalo nggak kepanasan...bakalan wangginya ituu iihhh...Jijik seh tapi musti gimana..antara cinta dan Jijik...huuffttt...Azzam--azzam..!!!

Cinta dan Jijik itu bisa kita jadikan suatu bahan pembelajaran buat anak...dan disitu kita bisa menerangkan, kaya kunang-kunang...biasanya Azzam suka nanya kaya keong " mi kenapa ada rumahnya" atau Kunang-kunang " knapa koq bisa ada cahayanya" dan banyak lagi pertanyaan yang diajukan sama Azzam..

Ketika azzam memegang hewan kesukaannya..Azzam selalu banyak nanya, knapa begini knapa begitu...dan itu tugas kita Orangtuanya menjadi orangtua yang proaktif....biasanya kalo dah mentok buat nyari jawabannya....
YUuk kita liat di buku biar lebih seruuu....kita cari Buku tentang serangga...kita cari tau biar tambah jelass, banyak jawabannya dan contoh gambarnya dibuku...
yeeeaahh Azzam lebih seneng dah digituin..anteng banget...yuukkk mau coba..intinya yaa jangan banyak di larang aja, semuanya kita ambil hikmah....sebagai bahan pembelajaran buat anak...

Apalagi kalo ditakut-takuti...ngggak deh, biarkan anak mengalir, sambil kita perhatikan, dan siap-siap jadi Orangtua yang proaktif...Semangaatt !!!! :)

Wednesday, March 24, 2010

~Mempersiapkan Anak Ujian Tanpa Tekanan~


Menjelang ujian, biasanya anak Anda perlu dukungan. Dampingi ia belajar dengan penuh perhatian tapi tanpa membuatnya tertekan. 

Pertama-tama adalah mempersiapkan ruang belajar yang layak bagi anak. Jika meja belajarnya terlihat berantakan, bantulah anak untuk membereskannya. Meja belajar yang lapang dan bersih membuat anak tenang dan siap untuk belajar.

Hindari belajar terlalu malam. Jika anak kurang tidur, maka materi yang telah ia pelajari semalaman, bisa hilang begitu saja ketika ujian. 

Pastikan juga anak Anda tidur cukup (minimal tujuh jam). Dengan tidur yang cukup, maka keesokan harinya anak Anda akan segar dan siap menghadapi ujian.

Buatlah suasana rumah senyaman mungkin untuk anak. Suara televisi yang terlalu keras atau canda tawa dari anggota keluarga lain kerap kali mengganggu konsentrasi anak saat belajar.

Saat anak sedang belajar, Anda tidak harus mengontrolnya dengan duduk disamping anak sepanjang waktu. Berikan sang anak sedikit ruang agar ia tidak tertekan. Anda bisa mengontrolnya dengan sekali-kali melihat kondisinya.

Bantulah anak Anda dalam belajar. Misalnya membantunya menghafal sebuah kalimat atau menghitung dalam pelajaran matematika. Jika Anda mempunyai trik yang cukup unik, bocorkanlah trik tersebut agar anak lebih mudah untuk menghafal atau menghitung.

Jangan melarang anak Anda mematikan ipodnya. Beberapa anak merasa lebih berkonsentrasi bila belajar sambil mendengarkan musik. Namun jangan pernah membiarkannya belajar di depan televisi yang menyala. Suara yang dihasilkan televisi hanya mengganggu konsentrasi anak.

Memaksa anak belajar berjam-jam tanpa henti merupakan sebuah kesalahan. Belajar tanpa henti justru akan membuat anak Anda tertekan. Selain itu otak anak tidak bekerja dengan baik ketika tidak beristirahat dalam waktu lama. Oleh karena itu, berikanlah anak Anda istirahat 10 menit setiap belajar selama 90 menit.

Berikan anak Anda makanan yang kaya akan nutrisi untuk meningkatkan kinerja otak. Pastikan juga anak Anda mendapatkan sarapan yang baik agar kinerja otak semakin maksimal saat menghadapi ujian.

Bantu anak membereskan peralatannya untuk berangkat ke sekolah dan pastikan tidak ada yang tertinggal. Terkadang hal kecil yang terlupakan seperti kartu ujian kerap kali membuyarkan konsentrasi anak.

Terakhir, jangan lupa berikan dia reward untuk menghiburnya. Misalkan jika ia cepat menghafal atau setelah selesai belajar, sediakan makanan favoritnya, ajak ia bermain, atau biarkan dia melakukan kegiatan yang disukainya selama batas waktu tertentu.

Monday, March 08, 2010

Sikap Otoriter VS Demokratis buat Anak

Hampir setiap orangtua menginginkan anaknya berperilaku patuh, disiplin dan tanggung jawab. Tapi seringkali mereka harus dipusingkan dengan sikap anak-anaknya yang tidak sesuai dengan harapan.

Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa pola asuh orangtua yang demokratis merupakan sikap yang lebih baik dalam rangka pembentukan harga diri apabila dibandingkan dengan sikap-sikap yang lain.

Lalu ada orangtua yang bertanya apakah sikap demokratis ini harus diberlakukan mulai anak masih kecil ? Selanjutnya, bagaimana menerapkannya?
Dalam beberapa kesempatan, banyak orangtua protes dan menyatakan bahwa mereka tahu mana yang terbaik untuk anaknya. Kalangan orangtua seperti ini berpikir (sekaligus khawatir), jika anak selalu ditanya keinginan dan persetujuannya pasti mereka menjadi besar kepala dan tidak patuh.

Jika kita hanya memperdebatkan sikap mana yang terbaik, tentu kita tidak akan menemukan solusinya. Maka saya menegaskan bahwa dalam membentuk sikap dan harga diri anak, sikap otoriter orangtua ternyata lebih baik diterapkan pada anak-anak usia dini.

Namun ketika anak telah mampu berpikir sendiri, orangtua harus mengganti sikap otoriter dengan sikap demokratis, agar anak dapat mengambil keputusan berdasarkan penilaiannya sendiri. Dan umumnya ini diberlakukan pada anak berusia sekitar 7 tahun.

Sikap demokratis ini memberikan peluang orangtua untuk melakukan kontrol atas kesempatan yang diberikan pada anak-anak untuk berperan serta dalam kegiatan sehari-hari, serta berpikir sesuai realita dan memberikan rasa berarti bagi keberadaan diri mereka.

Namun sebaliknya jika anak masih berusia dini, sebaiknya orangtua menjalankan sikap otoriter terhadap doktrin atau penegasan norma yang wajib dipatuhi. Penting untuk disampaikan ke anak, bahwa pelanggaran terhadap aturan mempunyai konsekwensi sanksi bagi mereka.
Dalam konteks ini juga, penanaman akhlak yang baik sebaiknya sudah ditanamkan dengan kuat sedini mungkin. Hal ini didasari bahwa kemampuan berpikir anak usia dini masih terbatas. Untuk itu anak diharapkan tunduk sesuai dengan perintah orangtuanya.

Namun seiring dengan bertambahnya usia, anak akan mulai berpikir dan menilai atau mempertanyakan banyak hal tentang aturan yang harus mereka patuhi. Saat inilah orangtua mulai memberikan pengertian sehingga anak mematuhi aturan dan berperilaku baik secara sadar dan mulai memberikan pemahaman.

Hal yang paling penting diperhatikan orangtua adalah, apapun nilai pengajaran sikap yang mereka berikan kepada anak-anak, harus disadari bahwa pendidikan yang utama dan pertama berasal dari keluarga.

Orangtua adalah basis nilai bagi anak. Jika lingkungan anak mendukung dan terkondisi dengan baik, Insya Allah anak akan terjaga akhlaknya.

Sunday, February 28, 2010

Ketika Anak Perempuan suka Mainan Laki-laki


Jenis Mainan sesuai dengan Jenis kelamin Adalah hal yang lumrah terjadi di sebagian orang tua yang menggolong-golongkan mainan sesuai jenis kelamin anak.

Banyak diantara orang tua yang langsung melarang atau memarahi anak lelaki kecilnya ketika dilihatnya anaknya tersebut tampak asyik bermain masak-masakan. Tabu, kata mereka. Kekhawatian ini masuk akal karena orang tua mana yang mau anak lelakinya menjadi kewanita-wanitaan atau sering kali kita lihat orang tua yang berkata, "Iih, anak perempuan kok main robot-robotan. Ini kan mainan anak laki?"

Di masyarakat sering kali anak laki-laki digoda atau diganggu oleh teman-temannya jika ketahuan ia bermain boneka. Padahal anak laki-laki selalu senang bermain boneka dan itu tidak berarti ia kewanita-wanitaan. Begitu juga jika anak perempuan senang bermain mobil-mobilan, biarkan saja.

Toh bukan berarti ia menjadi kelaki-lakian. Anak kecil tidak mengerti penggolongan atau pengkategorian. Orang dewasa yang membuatnya. Jadi mengapa harus dilarang jika anak perempuan anda tampak senang bermain mobil-mobilan? Dalam industri mainan dewasa ini telah tampak kemajuan.

Sekarang banyak perusahaan mainan yang membuat boneka yang didisain "maskulin" seperti boneka "Action Man" atau boneka-boneka dari karakter film kartun yang "macho" seperti"Power Ranger" atau sejenisnya. Dengan begitu anak lelaki tetap dapat bermain boneka tanpa terlihat "kewanita-wanitaan".

Mereka dapat "mendandani"bonekanya tanpa takut ditertawakan. Atau boneka Barbie yang mengendarai mobil kini juga mulai dijual di pasaran. Siasat ini mungkin berguna juga.

Sehingga, kata para ahli , orang tua sebaiknya jangan membuat anak-anak mereka menjadi lebih `maskulin` atau `feminin` dengan memilah-milah mainan berdasarkan apa yang orang tua pikir bahwa anak lelaki harus main ini dan anak perempuan harus main itu.

Orang tua sebaiknya membelikan mainan sesuai dengan selera individu si anak bukan hanya berdasarkan jenis kelamin atau usia....so tenang ajalaahh yaa....heheheh

Tuesday, February 16, 2010

Untuk Perempuan Super Sibuk: Sukses Di Kantor, Sukses di Rumah

Seorang ibu rumah tangga kadang kesulitan untuk membagi waktu untuk mengurusi semua urusan rumah dan keluarganya. Apalagi perempuan yang memilih berkarir, kesulitan mereka untuk menyeimbangkan peranannya sebagai pekerja di kantor dengan perannya sebagai ibu rumah tangga, jadi berlipat ganda. Tapi itulah tantangan bagi perempuan karir sekaligus ibu rumah tangga. Mereka harus bisa membagi waktunya antara bekerja di luar rumah dengan keluarganya di rumah.

Kesulitan membagi waktu ini menjadi kerap menjadi keluhan utama para perempuan karir. Tapi sebenarnya, jika mereka jeli, kesulitan menyeimbangkan peran itu terkadang datang dari mereka sendiri yang tanpa disadari kadang telah banyak membuang waktu-waktu berharga mereka. Untuk menghindari hal tersebut, Anisa Abeytia, seorang perempuan karir, penulis lepas dan spesialis di bidang kesehatan intregratif asal Uni Emirat Arab ini memberikan tips-tips bagi para perempuan karir maupun ibu rumah tangga agar lebih efektif menggunakan waktunya sehingga bisa menyeimbangkan semua kewajiban yang harus dipenuhinya.

Tips yang diberikan Abeytia berdasarkan pengalamannya sebagai ibu yang bekerja di luar rumah, mengurus empat anak dan menerapkan program homeschooling buat anak-anaknya serta masih harus bolak-balik ke kampus untuk menyelesaikan studi masternya. Tak terbayangkan betapa sibuknya ia harus membagi waktu agar tidak ada yang terbengkalai. Nah, inilah kiat-kiat yang diberikannya untuk para ibu yang juga super sibuk;

Membuat perencanaan. Sebaiknya ketika akan melakukan sesuatu, kita membuat perencanaan yang matang. Meski kadang hasilnya masih meleset dari yang kita harapkan. Tapi dengan membuat perencanaan, setidaknya kita tahu apa yang kita inginkan, bagaimanan mencapainya dan apa yang penting buat kita.

Tidak melibatkan anak-anak dalam banyak kegiatan di luar rumah. Banyak orang yang menjejalkan anak-anaknya dengan segudang kegiatan yang akhirnya banyak menyita waktu sang ibu hanya untuk mengatarkan anak-anaknya dari satu tempat kegiatan ke tempat kegiatan lainnya. Orang tua boleh-boleh saja memberikan banyak kesempatan pada anak-anaknya untuk mempelajari apa saja. Tapi tidak perlu berlebihan karena banyak kegiatan akan membuat ibu dan anak sama-sama lelah, anak juga jadi belajar tidak konsisten dan tidak benar-benar menguasai satu bidang karena terlalu banyak yang dilakukannya.

Jangan terlalu banyak perabot di rumah. Benda-benda yang ada di rumah kita harus selalu dalam keadaan rapih dan bersih dan itu artinya, semakin banyak perabotan di rumah, makin banyak pula waktu yang dibutuhkan untuk membersihkan dan merapikannya. Akan lebih baik jika perabot rumah tangga tidak terlalu banyak dan dipilih yang simpel saja, sehingga tidak buang-buang waktu ketika mengurusnya.

Menata rumah dengan benar . Kita kadang tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya sehingga ketika membutuhkan, butuh waktu lama untuk mencarinya. Disinilah pentingnya pengorganisasian, menempatkan benda-benda dalam rumah dengan benar dan seluruh anggota keluarga tahu kemana mereka harus mencari benda-benda yang dibutuhkannya termasuk masalah penggunaan telepon, internet dan televisi bisa menyebabkan banyak masalah jika penggunaannya tidak bijaksana.

Menetapkan tujuan yang realistis. Menentukan tujuan yang realistis memang bukan pekerjaan yang gampang. Tapi setiap tujuan harus sangat spesifik dan memberikan bimbingan pada kita tentang bagaimana, kapan dan berapa banyak atas kegiatan-kegiatan yang akan kita lakukan.

Menetapkan prioritas. Agar waktu tidak terbuang percuma, ada baiknya menentukan prioriotas apa yang penting buat kita dan mengapa sesuatu itu penting. Usahakan semua perencanaan per hari, per minggu atau perbulan dibuat dalam bentuk tertulis. Dengan mencatat semua rencana, tujuan, prioritas, waktu yang digunakan lebih efesien.

Pentingnya waktu untuk menyendiri. Setiap orang butuh saat-saat dimana ia bisa relax dan menyegarkan kembali pikirannya. Misalnya, membaca buku, mandi, berbagi makanan dengan teman-teman atau melakukan aktivitas yang sangat kita sukai. Jika tubuh dan pikiran tidak diberi kesempatan untuk relax, bisa menimbulkan resiko kelelahan dan sakit.

ilustrasi



Allah Swt menyukai tindakan kecil yang kita lakukan tapi konsisten. Daripada banyak hal yang dikerjakan tapi tidak konsisten mengerjakannya secara rutin. Konsistensi membuat sebuah kegiatan menjadi lebih mudah dan efektif serta bisa menyentuh semua aspek kehidupan. Kita tidak perlu membuang-buang waktu, uang dan tenaga hanya untuk meraih tujuan-tujua kita jika konsisten dengan tindakan kita.

Kesimpulannya, kunci keberhasilan seorang perempuan berkarir atau ibu rumah tangga adalah mampu menyeimbangkan antara pekerjaannya dengan waktu untuk keluarganya. Untuk itu yang terpenting adalah selalu membuat perencanaan, tahu prioritas apa yang akan dilakukan dan apa tujuan yang akan dicapai. Jika dibiasakan, ketiga unsur tadi akan menjadi sebuah sistem Anda dalam bekerja. Sehingga tidak perlu dipusingkan lagi dengan keluhan antara karir dan rumah tangga. by eramuslim.

Friday, January 08, 2010

Ini Bukan "Burung" tapi....

Pendidikan sex buat anak…kadang kita menyepelekan hal itu, padahal ini snagatlah penting diketahui juga buat anak-anak kita…Diusia 2 tahun anak mulai paham ia berkelamin laki-laki atau perempuan..dan disinilah tugas kita orang tua  Berikut dibawah ini apa yang harus kita lakukan pada anak kita dalam memberikan Sex Education :

  1. Jelaskan bahwa  alat kelamin juga disebut kemaluan, yang berarti malu bila dilihat dan disentuh oelh orang lain. Ajarkan agar ia selalu menutup bagian kelaminnya dengan pakaian yang sopan.Untuk jangka pendek, ini penting untuk mengajarkan si kecil menghargai dirinay sendiri serta terhindar dari penistaan seksual.
  2. Beritahu anak nama sebenarnyauntuk alat kelaminnya.Hindari istilah lain seperti “burung” atau cipit untuk menyamarkan hanya karena anda merasa risih. Ucapkan  dengan istilah yang benar seperti penis dan vagina (istilah anatomi). Untuk jangka panjang, pengetahuan ini penting agar anak menyabutkan alat kelamin dengan istilah yang benar agar terhindar dari penyebutan yang terkesan vulgar/porno.
  3. Ajarkan cara menjaga kebersihan bagian kelamin. Misalnya untuk anak perempuan, ajarkan cara membersihkannya setelah buang air kecil. Untuk anak laki-laki dan perempuanminta untuk tidak menggaruk alat kelamin agar tidak lecet dan luka.
  4. Kenalkan perbedaaan diri anak dengan jenis kelamin lain sehubungan dengan identitas gender, bukan perbedaan peran gender.
Semoga kita bisa memberikan yang terbaik buat anak-anak kita ..amiin