.: Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang :.

Sunday, July 30, 2006

Perkembangan Motorik Halus dan Kasar

Agar si kecil bisa mencapai dan melewati perkembangannya dengan normal, perlu diberikan stimulasi yang tepat sesuai usianya.

Idealnya, perkembangan motorik kasar dan halus si kecil akan diamati setiap berkunjung ke dokter spesialis anak dengan melakukan beberapa tes; apakah anak sudah bisa melakukan suatu gerakan A, misal. Dengan begitu, ketika ada keterlambatan, dokter langsung dapat mengintervensi dan memberi saran pada orang tua.

Tes yang umum dilakukan untuk memantau perkembangan motorik adalah tes Denver. Tes ini membagi perkembangan anak jadi empat, yaitu perkembangan personal sosial, perkembangan bahasa, serta perkembangan motorik kasar dan motorik halus adaptif. Perkembangan bayi akan diamati setiap 1 bulan sekali. Sedangkan balita, atau tepatnya setelah anak menginjak usia 2 tahun ke atas, cukup 3 bulan sekali.

Tes Denver ini, terang Ika Widiawati, lulusan Fakultas Psikologi UI, semacam checklist untuk mempermudah pemantauan akan perkembangan anak. Apakah anak sesuai dengan perkembangan usianya saat itu atau tidak. "Kalau misalnya anak terlambat, kita harus tahu pasti, bagian mana yang terlambat. Apakah perkembangan motorik halus, motorik kasar, bahasa atau personal sosialnya." Bila sudah diketahui, misal, "O, anak ini hanya perkembangan motoriknya saja yang terganggu, yang lain sesuai." Maka terapinya akan ditekankan ke situ.

Namun, jangan buru-buru menganggap si kecil mengalami kelainan, karena siapa tahu yang jadi penyebab justru kurangnya stimulasi. Itu sebab, bila terjadi keterlambatan, kita harus tahu persis penyebabnya. "Tak heran seorang psikolog akan bertanya bagaimana pola pengasuhan orang tua terhadap anaknya. Bukan tak mungkin orang tua yang overprotective akan membuat anak sulit berkembang. Kalau ini masalahnya, jelas orang tuanya yang perlu diterapi. Harus di beri penjelasan tentang dan cara-cara melakukan stimulasi pada anak."

Tapi kalau semua perkembangan anak terlambat, dari perkembangan bahasa, personal sosial, motorik kasar dan halusnya, maka anak dinyatakan mengalami retardasi mental/keterbelakangan mental. Misal, anak usia 3 tahun namun kemampuan motorik halus, kasar, termasuk berbahasa dan sosialnya, masih setara dengan anak usia 1 tahun 8 bulan.

Yang jelas, bila masalahnya berhubungan dengan motorik kasar, anak akan menjalani fisioterapi. Sedangkan jika masalahnya pada motorik halus, ia akan menjalani terapi okupasi. Untuk keterlambatan bahasa, tentu anak akan menjalani terapi wicara, dan sebagainya.

Nah, seperti apa perkembangan motorik kasar dan halus si batita? Yuk, kita, simak bersama di bawah ini, merunut tes Denver yang sudah dimodifikasi. Selanjutnya, amati apakah perkembangan si kecil sudah sesuai. Jangan lupa, beri stimulus agar ia bisa mencapai tahap-tahap perkembangan yang harus dilaluinya. Tentunya dilakukan sambil bermain, ya, Bu-Pak.

Faras Handayani.(nakita)

Tuesday, July 25, 2006

Helping Your Children Deal With Stress II

Children who stress

My daughter at one point started to stress because she was not in any of the top groups in the different subjects she was taking at school. She felt like she was a failure and that we would not be proud of her. I advised her that we knew she was giving it her all at school and that as long as she continued to try her best that we would always be proud of her. After all not every child can be in these top sets.

I reminded her that she was in the netball and athletics teams and tried to make her see the positive way of thinking.

She now knows that even when she believes she is unable to perform a certain task that she should still have a go at it. When she makes an error there will always be somebody their to explain where she went wrong, which she can then learn from for the next time.
As parents it is important that we do not criticise our children too often. This can lead to them fearing failure and can lead to them not even attempting to try certain tasks.

Keep them motivated by making homework fun. Praise the child as often as possible, when they complete something well, this builds up their self-esteem. Instead of shouting at the child when they are naughty, try to talk to them as if they were an adult.

In conclusion I always try to treat my own children in a fair and relaxed manner. I want them to know that I am proud of them even if they do not achieve one hundred percent at school. If they have nightmares, I want to work out why this might be and to break whatever cycle is happening. I attempt to work out what each child is worrying about and then try to help them to find a solution.

Helping Your Children Deal With Stress

by: Steve Hill

Many children suffer from various forms of stress and in this article I give advice on how parents can help their child during these periods. Their stress can cause them to have nightmares and to lose their self-confidence. I hope you find this article interesting and beneficial.

Children who have nightmares
There are many reasons why children can start to have nightmares. I have two children, both of whom at various stages of their lives wake up crying and upset.
My young son started to have nightmares after watching the film Lord Of The Rings. He really enjoyed watching the film and wanted to watch it on a regular basis and would even re-inact the battles. The film itself is quite long and he would normally be watching it by himself as his mother and I would be busy doing other things.

I thought about why he may have started to have these type of dreams and believed it was due to this film. I then made a point of watching it with him and kept on reassuring him that the people have not actually died and that they were only acting. I even made a point of laughing at some of the more gruesome scenes and by making comments like, as if that would ever happen. This and by also only allowing him to watch the film once a week, helped to stop this period of nightmares.

Children can also develop nightmares after an illness. This can happen after having a period away from school. They may start to worry that they may have fallen behind with their work, or that they may not be able to get back into their crowd of friends. They may also fear that their best friend may have found a new best friend.

In this situation I would advise that when the child is better and before he returns to school that you re-introduce them to the work that they were studying before the illness. You can even ask the teacher to supply some of the work that the child has missed, to help them to catch up. I myself always phone up the parents of my childrens friends and invite their child round for a meal, and to play, the evening before my child is set to return to school. Therefore when my children are ill, I always say to them not to worry about the work they may miss or about their friends as they know now how I operate etc

Wednesday, July 12, 2006

Tips Melatih Anak Tidak Ngompol


Kita sering risih juga ya..kalau anak kita sering ngompol..tapi..upss...anak tidak akan biasa kalau kita tidak membiasakannya...seperti contoh...Azka...anak yang pertama ..dari mulai 10 bulan tidak pernah ngompol lagi di malam hari..jadi kita nggak perlu repot-repot kalau sedang nyenyak tidur..anak bangun, nangis, ternyata pipis..repot kan ?

Nah....untuk siang harinya..Azka...biarkan pipis kapan juga...biasanya kalau malam nggak ngompol..paginya langsung ke toilet...toilet trainning gitu...kalau siang hari biarkan Azka pipis..jangan merasa risih deh...toh anak kita sendiri..dan saya nggak membiasakan pakai pampers...kecuali kalau pergi...atau ada acara dirumah...

Termasuk anak keduapun Azzam...hmmm alhamdulillah sama..sekarang udah 9 bln..dari 8 bulan udah nggak ngompol dimalam hari..seneng kan?..pokonya kalau dirumah nggak deh kasian, jangan dibiasakan pakai PAMPERS ..udah lembab..penyakit...walaupun ganti...

Adapun langkah-langkah yang perlu dilakukan orangtua dalam melatih anak agar tidak lagi mengompol :
  • Sejak dini lakukan toliet training dengan baik.
  • Pastikan anak sebelum pergi ke sekolah di sudah kebelakang (pipis) dan anak perlu diberi tahu dimana tempat untuk buang air kecil.
  • Termasuk ketika sedang asyik berjalan-jalan ke mal, perhatikan tempat untuk buang air kecil dan ajak anak untuk buang air kecil, jangan menunggu sampai si anak mepet kebelet pipis. Kalau ini yang terjadi biasanya si anak sudah ngompol duluan.
  • Pastikan juga intake minum si anak. Menjaga agar jangan sampai terlalu berlebihan sehinggan membuat si kecil sering sering buang air kecil.
  • Ajarkan ke anak agar jangan ragu jika ingin pipis segera utarakan dan tanyakan dimana tempatnya.

Wednesday, July 05, 2006

Tips Mendampingi Anak Nonton Televisi

Agar anak-anak terhindar dari tayangan televisi yang tidak sesuai dengan mereka, tips paling jitu adalah dengan mendampinginya saat mereka menonton TV.
Berikut cara sehat dan bijak saat anak-anak menonton TV :
  • Pilihlah program yang sesuai dengan umur anak.
  • Dampingi saat anak nonton program-program TV.
  • Pahamkan anak-anak mengenai manfaat program yang ditonton.
  • Cobalah untuk mendiskusikan dengan anak saat ada program yang sedikit menyimpang.
  • Gunakan bahasa yang sederhana agar anak-anak lebih mudah mengerti.
  • lakukan kerjasama dan tetapkan standar yang jelas dengan semua anggota keluarga.
  • Agar lebih optimal, terapkan pola ini dengan konsisten.

Sumber : Koran SINDO, Sabtu 7 Januari2006

Tips Mempersiapkan Anak Bersekolah

  • Pilih sekolah yang sesuai dengan visi pendidikan orangtua.
  • Siapkan lingklungan, dimulai dari rumah dengan rutinitas yang sudah mengarah ke belajar di sekolah.
  • Ajak anak untuk mengatur waktu dengan jadwal harian.
  • Intensifkan komunikasi anak dengan orangtua sehingga masing-masing tahu apa saja kebutuhannya.
  • Berikan selalu dukungan positif terhadap anak sehingga anak bisa berfikir positif pula.

Sumber : Koran SINDO, Rabu 5 April 2006

Tips Menyiapkan Anak Masuk Sekolah

  • Berikan informasi yg menyenangkan tentang TK sebagai pembentukan persepsi awal tentang sekolah. Misalnya,ia
    akan bertemu dgn teman -teman baru dan mainan baru. Ada juga guru-guru baru yang ramah dan baik.Disana banyak mainan
    sehinggabisa beemain bersama teman-teman. Gambar-gambar didinding kelasnya juga lucu-lucu.
  • Disisi lain, orang tua juga mesti menjelaska konsekuensinya, contohnya, karena bermain bersama teman-teman,maka ia harus mau bergantian,juga patuh pada guru dan tertib.jelaskan pula kenapa ia harus massuk TK apa
    tujuannya,dan apa saja yang didapat di TK , misalnya, mengatakan "dengan sekolah di TK , kakak akan banyak teman dan
    belajar banyak . Kan kakak katanya mau jadi anak pintar."
  • Agar anak bisa memahami secara kongkret bagaimana nantinya kalaia duduk di TK, lakukan dengan cara bermain
    peran. Misalnya ibu jadi guru anak jadi murid atau sebaliknya, malah kalau bisa, dalam bermain peran itu , tempat dan
    suasana ditata sedemikian rupa seperti di TK sungguhan. Ibu memberikan permainan permainan yang sering diajarkan di TK.
    Dengan cara demikian, kita akan menyiapkan mental anak untuk siap masuk TK.
  • Diskusikan dengan anak mengenai pemilihan sekolah baginya, karena dengan ini anak akan lebih merasa dihargai
    dan diharapka akan memicu motivasinya, selain itu nantinya akan dapat menghindari adanya kesan pemaksaan pendapat dari
    orangtua.
  • Pilih lokasi TK yang dekat dengan rumah karena anak masih kecil, sehingga mudah untuk diantarjemput. jika
    terpaksa memilih sekolah yang letaknya jauh dari rumah, pengguna mobil antar jemput sekolah dapat dipertimbangkan. Hal ini juga dapat melatih ank untuk mandiri dan bersosialisasi dengan tema-teman yang berada dalam mobil antar jemput tersebut.
  • Cari informasi selengkap mungkin mengenail sekolah yang akan dituju, kenali dengan baik kualitas sekolah.
  • Jika anda bisa kunjungi sekolah bersangkutan, perhatikan lingkungan sekitar sekolah, dan ketersediaan fasilitas. Dengan ini setidaknya kita
    mendapat informasi mengenai mutu sekolah tersebut.
  • Sesuaikan dengan keadaan dan kemampuan keluarga, sekolah yang bagus dan mutu tidak harus mahal, perlu diingat disini
    bahwa bersekolah adalah ajang bagi seseorang untuk mencari ilmu, dan mencari ilmu bukan merupakan ajang adu gengsi.
  • Perhatikan bakat dan kemampuan anak, setiap anak dikarunian oleh Allah kemampuan dan bakat yang unik dan
    berbeda-beda, Para orang tua harus jeli dalam melihat hal ini, selain untuk memudahkan dalam proses belajar anak, ini akan
    dapat memacu semangat belajar anak.

Sumber : Koran SINDO, Jum'at 13 januari 2006

Tips Bermain PS (Play Station)

Bermain PS tidak selalu negatif, asalkan ada kesepakatan yang dibuat, selama anak masih suka memainkan permainan dengan alat yang sering membuat anak kecanduan itu, sebaiknya orangtua juga ikut aktif terlibat untuk melakukan fungsi control.
Berikut beberapa tips agar permainan PS yang disukai anak anda menjadi positif:
  • Sebelum membeli alat game PS kita perlu membuat kesepakatan penjadwalan bermainnya. kapan waktu boleh main dan berapa lama, kemudian kalau ada pelanggaran, konsekuensinya apa.
  • Sesekali temani anak ketika bermain PS. Kegiatan bermain PS bersama ini akan semakin mendekatkan dan menghangatkan hubungan orangtua dan anak.
  • Temani anak ketika membeli CD game PS. Kita perlu ikut memilih bersama game yang menarik dan cocok untuk dia. Kalau anak ingin membeli CD game yang mengandung kekerasan , kita bisa mengalihkannya ke CD game lain yang tak kalah menarik tapi cocok dengan usianya.
  • Letakkan alat game PS di ruang keluarga. Hindari menempatkannya di kamar tidur si anak. Maksudnya agar kita lebih mudah mengontrolnya.
  • Persiapkan alternatif kegiatan lain yang sama menariknya dari bermain PS bisa saja anak diajak pergi keluar rumah dan melakukan kegiatan bersama yang menyenangkan.
  • Jadikan bermain PS sebagai motivasi prestasi belajar anak di sekolah.


Sumber : koran SINDO, kamis 2 februari 2006

Tips Membeli Mainan Edukatif

Azka sama Azzam lagi asyik sama mainannya....mainan kesukaan yang membuat anak lebih kreatif...tekun beneeer tuh anak...pada belum mandi lagi...baru bangun tidur langsung pada maen...
  • Mainan harus bisa dipakai anak. Mengingat banyak terjadi di orangtua yang membeli mainan tidak sesuai dengan umur anak.pastikan pada saat kita membeli mainan melihat untuk anak usia berapa tahun, mainan tersebut dipe untukkan jangan segan bertanya kepada pemilik atau penjaga toko.
  • orangtua harus jeli menyesuaikan mainan dengan minat anak. Leli * menegaskan bahwa mainan itu harus mendukung perkembangan anak, kalau menjadi sesuatu yang tidak bernilai maka akan sia-sia.
  • Berkaitan dengan minat anak, maka mainan seharusnya dapat memberi kepuasan secara emosional kepada anak.
  • Kemudian mainan juga harus disesuaikan dengan biaya yang tersedia. Mainan buatan lokal dapat menjadi pilihan, disamping mainan impor.
  • Yang penting,mainan harus diperhatikan sisi keamanan nya. Misalnya, mainan te buat dari kayu, maka pastikan bahan -bahan dancat tidak mengandung bahan kimia berbahaya.
  • Anak juga perlu diajarkan merapikan mainannya sendiri sejak usia dua tahun. Jika tidak tersedia rak khusus untuk mainan, orangtua dapat menyediakan kotak atau boks..
  • Bahwa membeli mainan dengan suatu nilai dan mainan tersebut harus dirawat. bisa saja, mainan yang lama di simpan berguna untuk di sumbangkan atau dijual kembali.

* Lely Tobing, pemilik Demarko Education Supplies sekaligus konsultan pendidikan anak.

Sumber : koran SINDO, kamis, 27 april 2006.

Tips Memilih Mainan Anak


Berikut adalah beberapa tips dalam memilih mainan untuk anak;

  • Orangtua perlu tahu tahap-tahap perkembangan anak, baik usia, emosi dan fisiknya.
  • Peduli terhadap mainan yang digunakan.jangan asal beli yang mahal, sesuaikan dengan kemampuan anak.
  • Keamanan alat bermain perlu diperhatikan, baik dari bahan dan kinerja alat tersebut.
  • Pilih mainan yang berwarna kontras dan cerah, untuk merangsang indera penglihatan anak.
  • Pastikan semua mainan dalam jangkauan anak, agar terhindar dari cedera ketika anak berusaha mencapainya.
  • anak diusia enam bulan keatas suka mainan y ang mengeluarkan bunyi dan benda berwarna seperti genta, bel, lonceng mini, gambar penuh warna maupun bendabertekstur lembut.
  • Beri mainan seperti lego dan sejenisnya yang mempunyai variasi bentuk pada anak usia 9 bulan ke atas,atau mainan serupa yang dapat dimainkan sewaktu mandi.
  • Tak perlu mainan mahal untuk anak anda. Sikecil butuh stimulus untuk merangsang kreativitasnya, dan ini bisa anda lakukan dengan membuatnya sendiri, tentu, kreativitas anda yang diperlukan.
Sumber; koran SINDO,sabtu 25 maret 2006

Tips Memilih Mainan Aman

MAINAN YANG AMAN

  • Jangan memberikan mainan bertali pada bayi.
  • Pilih mainan yang tidak mudah pecah dan tidak tajam karena bisa melukai anak.
  • Dampingi anak saat ia bermain dengan mainan yang menggunakan listrik.
  • Beritahu anak anak mengenai penggunaan mainan Apa yang dapat atau tidak dilakukan dengan alat tersebut.
  • Pilih bahan yang kokoh, kuat, danStabil untuk alat bermain yang didesign untuk dinaiki anak seperti mainan beroda.
  • Perhatikan keamanan anak saat bermain.

WARNA

  • warna pada mainan dapat menunjukkan kualitas bahan yang digunakan.mainan yang bagus dan kuat biasanya memiliki warna cerah dan tidak kusam.
  • Sesuaikan mainan dengan jenis kelamin anak. Selain tidak langsung, mainan akan membentuk karakter anak. Namun, sesekali lakukan pertukaran peran dalam bermain sehingga anak belajar memahami peran laki-laki dan perempuan.Contohnya, ajak anak lelaki bermain masak-masakan dan yang perempuan bermain mobil-mobilan.
  • Pilihlah mainan yang tidak mengandung zat yang membahayakan anak.
  • Ajarkan kegiatan yang mengasah kreatifitas anak dengan membuat mainan sendiri,seperti boneka tangan yang dijahit sendiri,bermain lilin warna-warni untuk dibentuk berbagai macam benda yang anak sukai.
  • Penting juga untuk memperhatikan nilai-nilai yang bisa kita tanamkan dari mainan tersebut.

Sumber; koran SINDO,selasa, 24 januari 2006.

Tips Menghentikan Tangisan Bayi

Banyak cara dapat dilakukan untuk menenteramkan si buah hati, berikut beberapa cara untuk menghentikan tangisan bayi.

Gendong
Gendong bayi dalam posisi tegak lurus dengan peruut menempel didada kita.
Tepuk-teppuk punggungnya dengan lembut.
Bawa ia berjalan-jalan mengelilingi ruangan atau keruangan lain. Bisa juga dengan cara meletakkannya di kereta bayi dan dorong perlahan-lahan dengan hati-hati. Jika kondisi kita tak memungkinkan untuk menggendongnya sambil berjalan, letakkan ia di lengan, sementara kita duduk di kursi goyang, goyangan ynag lembut akan menenangkannya.

Usap atau Tepuk-Tepuk dengan Lembut
Beberapa bayi dapat ditenangkan hanya oleh sentuhan tanpa harus menggendongnya. Ia bisa tenang hanya karena ditepuk-tepuk pantatnya atau diusap-usap pungungnya, sambil kita bersenandung lembut.

Beri Sesuatu untuk Diisap
Pada umumnya setiap bayi menjadi tenang dengan mengisap beri bayi mainan khusus untuk digigit atau bimbing ia menemukan jari-jemarinya untuk dimasukkan ke mulutnya, bisa juga kita menggunakan jari kelingking yang sudah dibersihkan untuk diisap.

Alihkan Perhatiaanya
Anda dapat mengalihkan perhatiannya dengan memperlihatkan sesuatu yang menarik sehingga ia lupa pada tangisannya. Gambar-gambar warna-warni atau mainan aneka bentuk dan warna akan mempesonanya. Cermin juga bisa digunakan. Ia akan senang melihat wajahnya sendiri.

Tunggu Amarahnya Reda
Kita tidak selalu dapat menenangkan bayi yang frustrasi.Bahkan jika dia tak senang duduk di kursinya. Kita tak dapat memecahkan masalah dengan memindahkan dan mengangkatnya.
Ketika tak ada hasilnya, cobalah rileks. Jangan terpaku untuk menghentikan tangisnya jika kita tak menemukan hal serius atau sesuatu yang salah. Tunggu saja sampai kemarahannya reda. Setelah amarahnya reda, beri kata-kata yang menyejukkan dan buat ia asyik dengan mainan penuh warna. Rangkulan dan gendongan juga bisa menenteramkannya. Kasih sayang kita, bukan hanya mengerem kemarahannya, tapi juga membantu si kecil mengembangkan rasa aman dan perasaan baik.

SUMBER : SINDO, Selasa, 20 Desember 2005